Welcome

Delete this widget from your Dashboard and add your own words. This is just an example!

Men ( a poem by Maya Angelou)

Monday, 10 March 2014

Men

When I was young, I used to
Watch behind the curtains
As men walked up and down the street. Wino men, old men.
Young men sharp as mustard.
See them. Men are always
Going somewhere.
They knew I was there. Fifteen
Years old and starving for them.
Under my window, they would pauses,
Their shoulders high like the
Breasts of a young girl,
Jacket tails slapping over
Those behinds,
Men.

One day they hold you in the
Palms of their hands, gentle, as if you
Were the last raw egg in the world. Then
They tighten up. Just a little. The
First squeeze is nice. A quick hug.
Soft into your defenselessness. A little
More. The hurt begins. Wrench out a
Smile that slides around the fear. When the
Air disappears,
Your mind pops, exploding fiercely, briefly,
Like the head of a kitchen match. Shattered.
It is your juice
That runs down their legs. Staining their shoes.
When the earth rights itself again,
And taste tries to return to the tongue,
Your body has slammed shut. Forever.
No keys exist.

Then the window draws full upon
Your mind. There, just beyond
The sway of curtains, men walk.
Knowing something.
Going someplace.
But this time, I will simply
Stand and watch.

Maybe. 
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit
Feed

Maju / Mundur Kena

Thursday, 6 March 2014


Ada saatnya merasa tidak berdaya, ketika tidak mampu membuat tindakan tegas mengenai melepaskan dan mempertahankan. Pada saat seperti ini, seseorang hanya bisa melarikan diri dari segala tekanan yang menyesakkan dada dengan merangkai2 sendiri hipotesa2 yang memberinya ketenangan hati dan fikiran. Merangkai - rangkai pemikiran - pemikiran yang membahagiakan hati meski kenyataannya tidak begitu adanya, mengingat - ingat knenangan -kenangan indah  dimasa lalu meski begitu banyak kesedihan dan rasa sakit dimasa sekarang.
Ketika telah begitu tergantung dengan seseorang, sangat sulit rasanya untuk melepaskan, meski mungkin kamu bukanlah orang yang dibutuhkan, tak ada lagi penghargaan. Meski sering menduga - duga, apa mungkin ia memimpikan orang lain ketika kamu memimpikannya. Seharusnya, kamu pergi melepaskan orang itu, tapi kamu bisa apa jika ia terus saja berkeliaran di relung hati. Merangkai - rangkai pemikiran seolah begitu banyak alasan untuk bertahan meski pada kenyataannya ia tidak perlu lagi bertahan. 
Tapi seseorang yang telah terperangkap bisa berbuat apa? dia hanya bisa pasrah dan menerka - nerka, berharap Tuhan segera menolong hatinya. Dia hanya bisa mempersiapkan diri agar terkumpul cukup energi dan keberanian untuk benar - benar pergi dan melupakan meski tak pernah tau sampai kapan menunggu energi itu terkumpul hingga cukup untuk amunisi keberangkatannya kelak.
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit
Feed

Siimmm salabiiiim.. "Berubah"

Wednesday, 5 March 2014

Picture was taken from : depositphotos.com
Waktu mampu merubah segala sesuatu yang ada didunia ini dengan mudah, benda maupun manusia sekalipun.
Manusia juga berubah, tidak hanya  fisik, tapi juga pribadinya. Yang jadi masalah sekarang adalah, apa yang akan kamu lakukan ketika segala perubahan hanya membuat kondisi serta situasi semakin buruk bagimu. 
Bagian terpahitnya adalah, sanggupkah kamu menelan kenyataan ketika kamu berubah begitu banyak untuk orang - orang tersayang mereka juga seperti tak mau kalah. Mereka juga berubah, saya tidak begitu peduli ketika fisik yang berubah. Toh, tak ada satupun hal fisik yang abadi. Tapi bagaimanakah setelah semua perubahan yang kau lakukan demi mereka, orang - orang tercinta, berubah sikap ke apa yang bertolak belakang dengan apa yang menjadi motivasimu berubah menjadi sesuatu yang kau kira baik, yang kau kira akan merangkul mereka semakin dekat.
Bayangkan ketika kau bahkan telah mentah - mentah melanggar prinsip yang ada pada diri demi orang tersayang, menjadi apa yang bukan inginmu hanya agar mereka mengerti maumu, agar semakin dekat segala jarak, roboh segala dinding pembatas. 

Kesakralan prinsip lama memang tak pernah bisa diingkari, terlalu jinak, tak akan lagi tertarik si pemburu. Terlalu lunak maka akan terpijak - pijak. 
Tapi ketika menyangkut orang tersayang, sanggupkah untuk terus liar, sanggupkah untuk terus garang. Yang tersayang bagaikan rumah, tempat melepas segala penat. Layaknya keluarga, sahabat, kekasih. Disini, keluarga sudah pasti akan mendukung, seperti kata pepatah, darah lebih kental dari apapun.
Lain halnya dengan sahabat dan kekasih, entah sulap apa, entah ilmu apa, tak satupun yang bisa menjelaskan mengapa bisa tumbuh cinta untuk mereka, mengapa kamu bisa terikat begitu kuatnya tanpa ada darah yang sama mengalir dalam tubuh kalian. Ah, apakah karena sama berasal dari Adam dan Hawa? Tetapi kenapa hanya mereka saja yang mampu benar manklukkan hatimu secara telak?
Bahkan, mereka datang tanpa sebab, tanpa tanda, lancang sekali mengambil hati. 

Bahkan banyak orang yang dengan begitu terang - terangan menunjukkan ambisi untuk mendapatkan sedikit tempat dihati tak mampu merebut posisi mereka? Lagi - lagi persoalannya semakin sulit, kenapa tidak menerima mereka yang jelas memperjangkan hatimu, berusaha untuk merebut hati. Entah kenapa, tak satupun buah fikiran yang mampu menjelaskan alasannya.
Kenapa begitu rela merubah - rubah diri, menerka - nerka apa yang mampu diperbuat demi membuat mereka semakin dekat, demi merangkul hati mereka terus menerus, sedang kamu bukanlah bunglon, sedang kamu bukanlah boneka.
Sangat abstrak, tak ada yang mampu ditarik sebagai kesimpulan ataupun alasan mengapa kamu rela melakukan segalanya untuk mereka. Mengapa kamu menganggap seakan mereka sarangmu, rumahmu, pelindungmu, kenapa mau - maunya menyerahkan tempat terbaik hati untuk mereka tempati sedang mereka tak mampu menjadi obat bagi hatimu sendiri. Mengapa mau - maunya?
Kamu bahkan tidak bodoh, tidak pula buta, mampu melihat, berfikir, tapi mengapa mau merugi demi mereka, mengapa untuk mereka sabarmu tiada habisnya, mengapa?
Tidak pernah kamu mampu berfikir dengan jernih jika urusannya adalah orang - orang tersayang, berubah demi mereka, tapi mereka malah berubah pula padamu. Mengacuhkanmu, kenapa? Ini sangat jelas sekali jawabannya, karena kamu telah jinak. Jika dulu kau begitu dikejar, kini terabaikan. Sangat sederhana, untuk apa memburu burung ketika ia sudah begitu jinak, untuk apa masih mengejarnya jika tanpa dicari, tanpa dipanggil, ia sendiri bertengger ditanganmu. 

Ketika kamu menganggap mereka sarang, tempat pulang, melepas penat, mereka justru menganggapmu binatang jinak. Sungguh tak menarik  jika memburu apa yang sudah jinak bukan? 
Ambisi telah terpenuhi, saatnya pemburu menemukan buruan lain. Kamu? siapa yang peduli.
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Reddit
Feed