![]() |
| Picture was taken from : depositphotos.com |
Manusia juga berubah, tidak hanya fisik, tapi juga pribadinya. Yang jadi masalah sekarang adalah, apa yang akan kamu lakukan ketika segala perubahan hanya membuat kondisi serta situasi semakin buruk bagimu.
Bagian terpahitnya adalah, sanggupkah kamu menelan kenyataan ketika kamu berubah begitu banyak untuk orang - orang tersayang mereka juga seperti tak mau kalah. Mereka juga berubah, saya tidak begitu peduli ketika fisik yang berubah. Toh, tak ada satupun hal fisik yang abadi. Tapi bagaimanakah setelah semua perubahan yang kau lakukan demi mereka, orang - orang tercinta, berubah sikap ke apa yang bertolak belakang dengan apa yang menjadi motivasimu berubah menjadi sesuatu yang kau kira baik, yang kau kira akan merangkul mereka semakin dekat.
Bayangkan ketika kau bahkan telah mentah - mentah melanggar prinsip yang ada pada diri demi orang tersayang, menjadi apa yang bukan inginmu hanya agar mereka mengerti maumu, agar semakin dekat segala jarak, roboh segala dinding pembatas.
Kesakralan prinsip lama memang tak pernah bisa diingkari, terlalu jinak, tak akan lagi tertarik si pemburu. Terlalu lunak maka akan terpijak - pijak.
Tapi ketika menyangkut orang tersayang, sanggupkah untuk terus liar, sanggupkah untuk terus garang. Yang tersayang bagaikan rumah, tempat melepas segala penat. Layaknya keluarga, sahabat, kekasih. Disini, keluarga sudah pasti akan mendukung, seperti kata pepatah, darah lebih kental dari apapun.
Lain halnya dengan sahabat dan kekasih, entah sulap apa, entah ilmu apa, tak satupun yang bisa menjelaskan mengapa bisa tumbuh cinta untuk mereka, mengapa kamu bisa terikat begitu kuatnya tanpa ada darah yang sama mengalir dalam tubuh kalian. Ah, apakah karena sama berasal dari Adam dan Hawa? Tetapi kenapa hanya mereka saja yang mampu benar manklukkan hatimu secara telak?
Bahkan, mereka datang tanpa sebab, tanpa tanda, lancang sekali mengambil hati.
Bahkan banyak orang yang dengan begitu terang - terangan menunjukkan ambisi untuk mendapatkan sedikit tempat dihati tak mampu merebut posisi mereka? Lagi - lagi persoalannya semakin sulit, kenapa tidak menerima mereka yang jelas memperjangkan hatimu, berusaha untuk merebut hati. Entah kenapa, tak satupun buah fikiran yang mampu menjelaskan alasannya.
Kenapa begitu rela merubah - rubah diri, menerka - nerka apa yang mampu diperbuat demi membuat mereka semakin dekat, demi merangkul hati mereka terus menerus, sedang kamu bukanlah bunglon, sedang kamu bukanlah boneka.
Sangat abstrak, tak ada yang mampu ditarik sebagai kesimpulan ataupun alasan mengapa kamu rela melakukan segalanya untuk mereka. Mengapa kamu menganggap seakan mereka sarangmu, rumahmu, pelindungmu, kenapa mau - maunya menyerahkan tempat terbaik hati untuk mereka tempati sedang mereka tak mampu menjadi obat bagi hatimu sendiri. Mengapa mau - maunya?
Kamu bahkan tidak bodoh, tidak pula buta, mampu melihat, berfikir, tapi mengapa mau merugi demi mereka, mengapa untuk mereka sabarmu tiada habisnya, mengapa?
Tidak pernah kamu mampu berfikir dengan jernih jika urusannya adalah orang - orang tersayang, berubah demi mereka, tapi mereka malah berubah pula padamu. Mengacuhkanmu, kenapa? Ini sangat jelas sekali jawabannya, karena kamu telah jinak. Jika dulu kau begitu dikejar, kini terabaikan. Sangat sederhana, untuk apa memburu burung ketika ia sudah begitu jinak, untuk apa masih mengejarnya jika tanpa dicari, tanpa dipanggil, ia sendiri bertengger ditanganmu.
Ketika kamu menganggap mereka sarang, tempat pulang, melepas penat, mereka justru menganggapmu binatang jinak. Sungguh tak menarik jika memburu apa yang sudah jinak bukan?
Ambisi telah terpenuhi, saatnya pemburu menemukan buruan lain. Kamu? siapa yang peduli.
Bagian terpahitnya adalah, sanggupkah kamu menelan kenyataan ketika kamu berubah begitu banyak untuk orang - orang tersayang mereka juga seperti tak mau kalah. Mereka juga berubah, saya tidak begitu peduli ketika fisik yang berubah. Toh, tak ada satupun hal fisik yang abadi. Tapi bagaimanakah setelah semua perubahan yang kau lakukan demi mereka, orang - orang tercinta, berubah sikap ke apa yang bertolak belakang dengan apa yang menjadi motivasimu berubah menjadi sesuatu yang kau kira baik, yang kau kira akan merangkul mereka semakin dekat.
Bayangkan ketika kau bahkan telah mentah - mentah melanggar prinsip yang ada pada diri demi orang tersayang, menjadi apa yang bukan inginmu hanya agar mereka mengerti maumu, agar semakin dekat segala jarak, roboh segala dinding pembatas.
Kesakralan prinsip lama memang tak pernah bisa diingkari, terlalu jinak, tak akan lagi tertarik si pemburu. Terlalu lunak maka akan terpijak - pijak.
Tapi ketika menyangkut orang tersayang, sanggupkah untuk terus liar, sanggupkah untuk terus garang. Yang tersayang bagaikan rumah, tempat melepas segala penat. Layaknya keluarga, sahabat, kekasih. Disini, keluarga sudah pasti akan mendukung, seperti kata pepatah, darah lebih kental dari apapun.
Lain halnya dengan sahabat dan kekasih, entah sulap apa, entah ilmu apa, tak satupun yang bisa menjelaskan mengapa bisa tumbuh cinta untuk mereka, mengapa kamu bisa terikat begitu kuatnya tanpa ada darah yang sama mengalir dalam tubuh kalian. Ah, apakah karena sama berasal dari Adam dan Hawa? Tetapi kenapa hanya mereka saja yang mampu benar manklukkan hatimu secara telak?
Bahkan, mereka datang tanpa sebab, tanpa tanda, lancang sekali mengambil hati.
Bahkan banyak orang yang dengan begitu terang - terangan menunjukkan ambisi untuk mendapatkan sedikit tempat dihati tak mampu merebut posisi mereka? Lagi - lagi persoalannya semakin sulit, kenapa tidak menerima mereka yang jelas memperjangkan hatimu, berusaha untuk merebut hati. Entah kenapa, tak satupun buah fikiran yang mampu menjelaskan alasannya.
Kenapa begitu rela merubah - rubah diri, menerka - nerka apa yang mampu diperbuat demi membuat mereka semakin dekat, demi merangkul hati mereka terus menerus, sedang kamu bukanlah bunglon, sedang kamu bukanlah boneka.
Sangat abstrak, tak ada yang mampu ditarik sebagai kesimpulan ataupun alasan mengapa kamu rela melakukan segalanya untuk mereka. Mengapa kamu menganggap seakan mereka sarangmu, rumahmu, pelindungmu, kenapa mau - maunya menyerahkan tempat terbaik hati untuk mereka tempati sedang mereka tak mampu menjadi obat bagi hatimu sendiri. Mengapa mau - maunya?
Kamu bahkan tidak bodoh, tidak pula buta, mampu melihat, berfikir, tapi mengapa mau merugi demi mereka, mengapa untuk mereka sabarmu tiada habisnya, mengapa?
Tidak pernah kamu mampu berfikir dengan jernih jika urusannya adalah orang - orang tersayang, berubah demi mereka, tapi mereka malah berubah pula padamu. Mengacuhkanmu, kenapa? Ini sangat jelas sekali jawabannya, karena kamu telah jinak. Jika dulu kau begitu dikejar, kini terabaikan. Sangat sederhana, untuk apa memburu burung ketika ia sudah begitu jinak, untuk apa masih mengejarnya jika tanpa dicari, tanpa dipanggil, ia sendiri bertengger ditanganmu.
Ketika kamu menganggap mereka sarang, tempat pulang, melepas penat, mereka justru menganggapmu binatang jinak. Sungguh tak menarik jika memburu apa yang sudah jinak bukan?
Ambisi telah terpenuhi, saatnya pemburu menemukan buruan lain. Kamu? siapa yang peduli.









0 comments:
Post a Comment